Resensi Buku Atheis Karya Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Panjang Menemukan Tuhan

Resensi Buku Atheis Karya Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Panjang Menemukan Tuhan



Resensi Buku Atheis Karya Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Panjang Menemukan Tuhan - Sekitar tahun 2016, saya menemukan sebuah flyer diskusi yang sedang  seliweran di linimasa media sosial saya. Diskusi tersebut akan membicarakan salah satu karya sastra  yang  berjudul Atheis dari Achdiat K. Mihardja.  Buku itu kemudian membuat saya tertarik sebab diskusi seperti itu semacam rekomendasi  bacaan menarik yang orang lain berikan secara tidak langsung. Benar saja, Atheis ternyata  diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1949. Tulisan yang terus dibicarakan dari jaman ke jaman seperti itu, tentunya  menjanjikan kualitas yang jauh dari kata buruk. Sejak itu, Atheis masuk dalam daftar buku yang ingin saya baca.

Maka pada pertengahan tahun 2018, saya senang bukan kepalang  ketika mendapatkan Atheis secara gratis. Ya gratis, dan terpujilah media sosial sebab saya mendapatkannya dari sana. Waktu itu salah seorang pengguna Twitter(@InsideErick) membagikan Atheis dalam bentuk elektronik. Kerennya, buku elektronik itu legal yang bersumber dari Kemdikbud. Setelah tersimpan cukup lama di ponsel, pada tahun 2019 ini, Atheis baru sempat saya baca. Saya menamatkannya kurang lebih tiga hari.

Cerita Atheis sendiri berpusat pada tokoh yang bernama Hasan. Ia adalah pemuda yang besar di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai agama. Kedua orangtuanya telah mendidiknya untuk mengaji dan sembahyang sejak usia lima tahun. Semakin dewasa, Hasan semakin rajin melaksanakan perintah agama. Dalam suatu paragraf, Hasan bahkan dikisahkan telah mencapai puncak dalam kegiatan beragama: berpuasa tujuh hari tujuh malam, mandi di kali selama empat puluh kali semalam, dan mengunci diri di kamar selama tiga hari tiga malam tanpa makan, tanpa tidur, dan tanpa bercakap dengan orang lain (hal. 24).

Keyakinan Hasan perlahan goyah tatkala ia bergaul dengan kawan lamanya, Rusli–seorang penganut ideologi Marxisme-Leninisme. Rusli kerap terlibat diskusi dengan Hasan. Salah-satunya tentunya tentang Tuhan. Rusli mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Agama dan tuhan itu adalah ciptaan manusia sendiri (hal. 73). Itu membuat hati Hasan memberontak tapi tak mampu membantah dan justru terus mengganggu pikirannya. Hasan tak mampu keluar dari lingkungan seperti itu terlebih lagi ia terlibat percintaan dengan Kartini, perempuan yang menganut ideologi yang sama dengan Rusli. Pergaulan yang kental dengan orang-orang  seperti Rusli membuat Hasan semakin jauh dari nilai-nilai agama. Sembahyang hanya kadang-kadang saja ia lakukan, yaitu apabila ia merasa terlalu berat tertimpa oleh tekanan kesedihan dan puasa sama sekali sudah ia pandang suatu perbuatan sesat (hal. 135).

Keraguan Hasan tentang keberadaan Tuhan semakin diperkuat ketika bertemu dengan Anwar. Ia adalah seorang individualis anarkhis, yang seolah-olah tak ada yang baik dan semua harus dirombak, harus dihancurkan. Anwar percaya bahwa “Tuhan itu candu” seperti yang dibilang oleh Marx. Bahkan Anwar mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan: Tuhan itu adalah aku sendiri (hal. 108). Dalam berbagai interaksinya dengan Anwar dan Rusli, Hasan menyadari bahwa keduanya percaya bahwa Tuhan adalah bikinan manusia  (hal. 165). Meski belum meyakini dengan sepenuh hati, namun sikap Hasan menunjukkan gelagat yang sependapat dengan kedua kawannya itu.

Sikap yang seperti itu akhirnya membawa Hasan terlibat perdebatan hangat dengan ayahnya. Mengetahui pendirian anaknya yang mulai meyakini ketidakberadaan Tuhan, membuat orangtuanya kecewa. Akibatnya Hasan diusir dari keluarganya. “Kalau begitu, baklah kita berpisahan jalan saja. Kau sudah mendapat jalan sendiri, ayah dan ibu pun sudah ada jalan sendiri,” kata ayahnya (hal. 168).

Setelah kejadian itu, Hasan kembali ke kota dan memutuskan untuk menikahi Kartini. Tapi kehidupan keluarganya justru lebih banyak menimbulkan masalah. Pertengkaran kerap terjadi antara dirinya dan Kartini membuat rumah tangganya tidak akur. Ia kemudian banyak berkonflik dengan dirinya sendiri. Mempertanyakan sikap-sikapnya selama ini. Puncaknya ketika ayahnya meninggal dunia. Ia memikirkan kembali perihal keberadaan Tuhan. Apakah manusia yang pada suatu saat mati berarti Tuhan habis pula riwayatnya? Tidakkah lebih masuk akal bahwa Tuhan itu akan terus ada? Bukankah seharusnya pencipta alam semesta akan terus ada meskipun musnahnya manusia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akhirnya membawa ia pada kesimpulan yang membuatnya menyesali keyakinannya selama ini: Jadi dengan sendirinya, ucapan yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah bikinan manusia tidak bisa aku terima. (hal. 234).

Pada akhirnya Atheis jadi semacam perjalanan menemukan Tuhan. Perjalanan seperti itu, bagi sebagian orang adalah jalan panjang yang tidak mudah. Atheis berhasil mengisahkan pergulatan batin individu dengan dirinya sendiri. Seperi kata Jamal D. Rahman – pemimpin majalah sastra Horison – di sampul belakang buku ini, bahwa Atheis memberikan aspek-aspek menantang dalam tema ketuhanan, di mana Tuhan merupakan tema penting dalam sejarah kesadaran manusia dalam upaya menemukan Tuhan yang benar-benar bermakna dan relevan bagi hidup manusia.


Identitas Buku
Judul: Atheis
Penulis: Achdiat K. Mihardja
Penerbit: Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional
ISBN: 979-407-185-4

Belum ada Komentar untuk "Resensi Buku Atheis Karya Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Panjang Menemukan Tuhan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel