Buku Terbaik 2018: Tahun Menyebalkan dengan Buku Menyenangkan

buku terbaik 2018
Sumber gambar: pixabay.com


Buku Terbaik 2018: Tahun Menyebalkan dengan Buku Menyenangkan - Saya mengenang tahun 2018 dengan cerita yang seperti ini: Pada awal tahun saya keluar dari pekerjaan di tanah rantau, dan karena sesuatu dan lain hal, saya  pulang dan  menetap di kampung halaman, dan tentu saja, saya melihat itu sebagai sebuah kesempatan menghabiskan banyak waktu untuk belajar menulis sekaligus banyak membaca buku, dan tentu lagi, saya juga berusaha untuk mencari pekerjaan baru di sana, sebab saya juga tahu diri, bahwa tidak mungkin segala kebutuhan saya akan terus ditanggung oleh orangtua, dan dalam situasi seperti itu, saya mengirim surat lamaran pekerjaan ke beberapa tempat, tapi sayangnya, tak ada yang berakhir dengan tanda tangan kontrak kerja, sehingga pada sekitar pertengahan tahun, saya memutuskan bekerja sebagai pengemudi ojek daring, dan karena pekerjaan itu, akhirnya saya bisa membeli ponsel baru meski masih dibantu oleh subsidi orangtua, dan karena pekerjaan itu pula, saya mendapat keletihan yang teramat sangat, meski tentu saja, itu adalah pekerjaan yang menyenangkan, sebab sebagaimana yang mungkin sudah kita tahu, pengemudi ojek daring memang diberikan kebebasan untuk bekerja, tapi sialnya, karena persoalan teknis, saya pun harus memutuskan untuk  berhenti sementara setelah kurang lebih tiga bulan bekerja, yang pada akhirnya membawa saya mengakhiri sisa tahun sebagai seorang pengangguran.

Ya, secara garis besar tahun 2018 saya memang seperti di atas. Kelihatan tahun itu memang hanya berisi kegagalan demi kegagalan. Saya menemukan kata yang cukup lucu untuk mewakilinya: menyebalkan. Bagaimana tidak, untuk ukuran target bacaan – yang menurut saya target yang paling mudah – saja, tak mampu saya selesaikan. Pada tahun 2018 saya menargetkan membaca sebanyak 50 judul buku, tapi hanya bisa menyelesaikan 34 judul buku. Untuk ukuran saya yang  memiliki sangat banyak waktu luang, tidak mampu menyelesaikan target bacaan seperti tadi adalah sesuatu yang menyebalkan.

Meski demikian saya tetap bersyukur karena pada tahun 2018 masih bisa menikmati buku-buku penulis incaran saya. Hal itu saya anggap sesuatu yang menyenangkan sebab membaca mereka berarti menuntaskan rasa penasaran saya terhadap isi buku-buku yang dibuat mereka. Di bawah ini ada beberapa buku yang menurut saya cukup menyenangkan untuk dibaca.


Karya Fiksi Eka Kurniawan

Novel Lelaki Harimau adalah tulisan Eka Kurniawan yang pertama kali saya baca. Novel itu berkisah tentang pembunuhan yang disebabkan oleh sakit hati. Kita mungkin sering mendengar cerita pembunuhan semacam ini. Namun di tangan Eka, cerita itu menjelma menjadi kisah yang memikat. Dengan gaya realisme-magisnya, Eka menceritakan latar belakang hingga mengungkap motif pembunuhan tersebut. Di novel ini, menurut saya Eka sukses membuat perasaan pembacanya menjadi campur aduk. Saya rasa, setiap pembaca yang menyelesaikan Lelaki Harimau, akan merasakan kemarahan yang sama seperti yang dirasakan oleh tokoh utamanya.

Setelah membaca itu, saya semakin tertarik untuk membca karya Eka yang lain termasuk karya besarnya: Cantik Itu Luka. Pada tahun 2018 saya menamatkan beberapa karya Eka, seperti Corat-Coret di Toilet, Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cinta Melalui Mimpi, Cinta Tak Ada Mati, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan O. Selalu menyenagkan membaca karya Eka sebab saya tak hanya menikmati ceritanya, tapi juga berusaha memahami bagaimana sebuah cerita itu disajikan.


Dua Novel Gabriel Garcia Marquez

Eka Kurniawan pernah berkata dalam suatu tulisannya bahwa Gabriel Garcia Marquez adalah raksasa tunggal kesusastraan abad 20. Ketika mengetahui itu, saya jadi bertekad untuk membaca semua tulisan Gabo – panggilan akrab Gabriel Garcia Marquez. Penulis yang dilabeli raksasa seperti itu tentunya bukan penulis sembarang. Membaca tulisan-tulisannya adalah cara belajar “mencuri” ilmu menulisnya yang paling mudah. Maka pada tahun 2018 ini saya begitu senang bisa membaca dua karyanya. Pertama adalah Love in The Time of Cholera, dan kedua, adalah karya besarnya One Hundred Years of Solitude.  


Buku-Buku Penulis Klasik

Pada tahun 2018 saya membaca beberapa tulisan penulis yang dilabeli klasik. Selain Gabo tadi, ada beberapa nama yang berhasil saya akses, misalnya Franz Kafka dengan noveletnya Metamorfosis, Jorge Luis Borges dengan kumpulan cerpennya Utopia Seorang Lelaki yang Lelah, dan Knut Hansum dengan novelnya Lapar. Saya selalu senang membaca atau bahkan memiliki karya-karya klasik. Karya seperti itu semacam barang antik yang nilainya jauh lebih berharga dari barang-barang lainnya.



Catatan: Tulisan ini pertama kali dipublikasikan pada 22 Januari 2019 untuk memenuhi tantangan pertama dari 10 kali tantangan menulis dengan tema: Mengenang 2018. Tantangan ini diselenggarakan oleh #Katahatiproduction #Katahatichallenge

Belum ada Komentar untuk "Buku Terbaik 2018: Tahun Menyebalkan dengan Buku Menyenangkan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel