Pengaruh Keputusan Hidup Terhadap Jalan Hidup yang Lain

Sumber gambar: pixabay.com

Apa keputusan besar yang mengubah jalan hidupmu? Kalau saya, tak akan ragu mengatakan ini: memilih kuliah jurusan akuntansi di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Kenapa? Karena di sana, saya dipertemukan dengan dunia baca-tulis, atau  mungkin yang lebih spesifik adalah dunia sastra. Kadang saya merasa pertemuan tersebut semacam takdir, sebab siapa yang menyangka–bahkan saya sendiri pun tidak–orang yang kuliah di jurusan akuntansi tapi lebih tertarik pada dunia sastra. Dan  ternyata itu terjadi pada saya.

Sebelumnya, izinkan saya kembali ke masa beberapa tahun ke belakang. Waktu itu, saya baru lulus SMA di tanah kelahiran saya, Mamuju, Sulawesi Barat. Dan sebagaimana anak yang baru lulus, tentunya saya mendambakan kuliah di tempat terbaik. Hebatnya saya lulus di dua universitas ternama di Jawa (satu swasta, yang satunya lagi negeri). Itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tapi untuk ukuran siswa biasa seperti saya itu sangat luar biasa. Lulus di sana adalah sebuah kebanggaan.

Di tengah kegembiraan seperti itu, bencana justru datang dari kedua orang tua. Mereka tidak memberikan izin kepada saya untuk merantau ke pulau Jawa. Alhasil, itu semacam tamparan. Saya dirundung kekecewaan yang mendalam. Kalau diibaratkan kisah asmara, itu seperti seseorang yang menyatakan cinta kepada gebetan tapi ditolak mentah-mentah. Begitulah saya pada waktu itu, patah hati sepatah-patahnya.

Singkat cerita, terdamparlah saya di jurusan akuntansi UIN Alauddin Makassar. Semuanya berjalan biasa saja sampai saya mulai mengenal jatuh cinta dan patah hati yang sebenarnya. Keduanya mengenalkan saya pada puisi. Saya ingat puisi saya waktu itu adalah sebuah cuitan bersambung di Twitter yang ditujukan kepada gebetan. Kalau sekarang itu mungkin disebut sebagai utas.

Saya kemudian juga mulai mengenal blog. Tulisan pertama saya di blog lagi-lagi ditujukan kepada si gebetan tadi–yang entah di mana tulisan itu sekarang. Dalam beberapa tulisan awal saya di blog pada waktu itu, saya seakan mendapatkan kenikmatan di setiap tulisan yang selesai. Karena saya adalah tipikal orang yang tidak doyan ngomong, di tulisan saya seperti mendapatkan tempat untuk menumpahkan segala isi kepala. Di tulisan, saya seperti menemukan diri sendiri. Belakangan saya berfikir di situlah saya seharusnya, dan  benar saja, itulah yang terjadi hingga hari ini.

Lain tulisan, lain lagi bacaan. Saya mulai tertarik untuk membaca buku juga saat kuliah. Waktu itu–saya lupa persisnya–saya tidak sengaja menemukan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer di salah satu rak perpustakaan kampus. Itu semacam pintu masuk yang membawa saya mengenal karya sastra yang lain. Dan karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi adalah hiburan yang memang sangat mengasyikkan.

Tentu saja saya pun ingin menulis sebaik bacaan-bacaan yang saya baca itu. Dan sebagaimana nasehat penulis yang baik adalah pembaca yang baik,  maka saya pun juga mulai banyak belajar membaca novel, membaca cerpen, membaca puisi, dan  membaca buku apa saja yang kebanyakan memang berhubungan dengan sastra. Itu juga terjadi hingga hari ini.

Apa semua itu kebetulan? Entahlah. Tapi terkadang saya berfikir bahwa itu semacam takdir. Kalau saja waktu itu saya diperbolehkan kuliah di tanah Jawa, kemungkinan saya tak akan pernah bertemu dengan dunia baca-tulis ini. Keputusan saya pada waktu itu, akhirnya membawa saya kepada jalan hidup lain–yang lebih tepat untuk saya tentunya. Itu yang selalu saya syukuri.

Kalau kisah saya itu mau di berikan pesan moral (kalau memang pesan moral itu penting dalam setiap tulisan), mungkin akan seperti ini: setiap kejadian ada hikmahnya. Dan sialnya, hikmah yang saya dapatkan adalah jatuh di dunia membaca dan menulis. Sungguh hidup yang akan dipenuhi kata-kata.



5 Komentar untuk "Pengaruh Keputusan Hidup Terhadap Jalan Hidup yang Lain"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel