(Resensi Buku) Senyap yang Lebih Nyaring: Mengais Bacaan Eka Kurniawan

Senyap yang Lebih Nyaring

Saya lupa persisnya kapan pertama kali bertemu tulisan Eka Kurniawan di Ekakurniawan.com. Tapi semenjak tahu blog pribadi Eka itu, saya sering-sering ke sana untuk membaca tulisannya. Saya menemukan banyak hal menarik utamanya tentang dunia baca-tulis.

Dari sekian banyak tulisan Eka di blog itu, saya cenderung tertarik untuk menemukan bacaan apa saja dan penulis siapa saja yang diikuti Eka. Saya bertemu nama-nama penulis luar seperti Hansum, Kawabata, Faulkner, Vila Matas, Javier Marias, Hassan Blasim, Maupasant dll. Atau nama-nama penulis Indonesia macam Abdullah Harahap, Matinggo Busye, S. B. Chandra, dll. Saya tidak yakin pernah menemukan nama-nama tersebut sebelum membaca tulisan Eka di blognya.

Saya juga bertemu bacaan seperti Kisah 1001 Malam, yang dari tulisan Eka saya tahu bahwa itu adalah karya klasik peninggalan peradaban islam yang banyak menginspirasi para penulis dunia. Saya juga bertemu dengan Don Quixote. Novel karya Cervantes ini disebut sebagai sebuah mahakarya yang lebih besar dari penulisnya sendiri. Membaca komentar-komentar seperti itu seakan memberikan  jaminan bahwa karya tersebut berkualitas dan harus dibaca.

Pada tahun 2019 ini, ada yang berani membukukan tulisan-tulisan yang ada di blog Eka.  Penerbit Circa, merangkum sekitar 107 tulisan dalam satu judul buku: Senyap yang Lebih Nyaring. Penyusunan tulisan dilakukan berdasarkan urutan waktu, mulai dari tulisan yang terbit tahun awal tahun 2012 hingga akhir tahun 2014. Saya tidak tahu apakah tulisan-tulisan dalam rentan waktu tersebut dibukukan semua atau memang hanya tulisan pilihan saja.
 
Bagi yang tertarik dengan dunia tulis-menulis, membaca kumpulan tulisan ini akan sangat bermanfaat sebab salah satu hal yang kerap dibagikan Eka di blog adalah pengalaman menulis dan tips menulis. Tentu saja itu tidak serta-merta akan membuat kita memiliki kemampuan menulis yang baik,  tetapi setidaknya bisa menginspirasi dan memberikan semangat untuk terus menulis. Tulisan-tulisan seperti itu dapat ditemukan di buku ini misalnya di Bagaimana sebagai Penulis Pemula, Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali?, Penulis yang Mendesain Sendiri Sampul Bukunya, Belajar menulis Novel, Bagaimana Penulis Mendaur Ulang Cerita Penulis Lainnya Menjadi Kisah Baru yang Memikat, dan lain-lain.

Melalui blog, Eka juga seolah ingin mengatakan bahwa menulis itu tidak harus mengikuti aturan baku yang ada. Dalam kata pengantarnya yang berjudul Blog Sebagai Remah Roti Hansel dan Gretel, Eka mengatakan bahwa dengan menulis di blog dia bisa memilih sendiri buku yang dia baca dan menulis dengan cara yang dia inginkan. Makanya jangan heran jika dalam buku ini (dan tentu saja di blognya juga) banyak menemukan tulisan yang memiliki satu paragraf saja. Itu disengaja. Alasan Eka adalah karena dia membayangkan untuk menulis dalam satu tarikan gagasan yang diterjemahkan dalam satu blok paragraf (hal. V).

Menyenangkan memang membaca tulisan-tulisan Eka di buku ini (dan tentu lagi di blognya). Semacam tempat untuk mengais referensi bacaan baru. Apa yang saya cari dari Ekakurniawan.com  adalah jejak-jejak bacaan Eka. Ya, syukur-syukur kalau bisa mengikutinya. Seperti kata Eka, siapa tahu dengan begitu saya tersesat juga dalam labirin bacaan tak berujung, dan bisa dipertemukan dengan Eka di suatu tempat, untuk memulai perbincangan yang lain.


Identitas Buku
Judul buku: Senyap yang Lebih Nyaring
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Circa
Tahun Terbit: Mei 2019 (cetakan kedua)
Tebal: xii + 352 halaman
ISBN: 978-623-90087-7-2

Belum ada Komentar untuk "(Resensi Buku) Senyap yang Lebih Nyaring: Mengais Bacaan Eka Kurniawan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel